Minggu, 29 November 2009

Sebab Terhapusnya Amalan

Sebab Terhapusnya Amalan
Oleh: Abu Abdillah al-Atsari

Urgensi Pembahasan
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya rahmat Alloh sangat luas, Dia berfirman:

Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami. (QS.al-A’raf 156).
Hal ini diperkuat pula oleh hadits-hadits Rasulullah yang tidak sedikit, diantaranya apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Umar bin khaththab bahwasanya Nabi melihat seorang wanita sedang menggendong anaknya sambil memberi makan, lantas nabi bertanya kepada para sahabatnya,
أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِيْ النَّارِ؟ قُلْنَا: لاَ, وَ اللهِ, فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ: َللهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا
Apakah kalian mengira bahwa ibu ini tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api? kami menjawab, “Demi Alloh, dia tidak akan tega” Rasulullah pun bersabda, “Ketahuilah, Alloh lebih mengasihi para hambaNya daripada seorang ibu kepada anaknya”.(HR.Bukhari 5999, Muslim 2754).
Dalam hadits yang lain dari Abu Sa’id al-Khudzri menceritakan bahwasanya Rasulullah pernah bersabda;
قَالَ الشَّيْطَانُ: وَ عِزَّتِكَ يَا رَبِّيْ لاَ أَبْرَحُ أَغْوِيْ عِبَادَكَ مَا دَامَتْ أَرْوَاحُهُمْ فِيْ أَجْسَادِهِمْ فَقَالَ اللهُ: وَ عِزَّتِيْ وَ جَلاَلِيْ لاَ أَزَالُ أَغْفِرُ لَهُمْ مَا اسْتَغْفَرُوْنِيْ
Setan berkata, “Demi kemulianmu wahai rabbku, aku akan senantiasa menyesatkan para hambamu selama mereka masih hidup. Alloh membalas perkataannya, “Demi kemuliaan dan keagunganku, aku akan senantiasa memberi ampunan kepada mereka selama mereka meminta ampun kepadaku”. (Hasan Lighairih.HR.Ahmad 3/29, Hakim 4/261, lihat as-Shahihah 104, Shahih Targhib 2/270).
Imam Munawi berkata, “Ini adalah janji Alloh untuk memberi ampunan”. (Faidhul Qadir 2/437)
Akan tetapi sadarilah wahai para hamba yang sedang meniti jalan rabbnya, luasnya rahmat dan ampunan Alloh, janganlah menjadikan kita merasa aman dari siksa dan adzabnya, janganlah kita merasa bahwa segala amalan yang kita kerjakan pasti diterima olehNya, siapakah yang bisa menjamin itu semua?. Generasi salaf dahulu saja, dengan segala kebaikan yang mereka miliki, mulai dari ibadah, amal kebajikan, zuhudnya dan pengetahuan mereka bahwa Alloh Maha Luas Ampunan dan Rahmatnya, mereka masih dihinggapi rasa takut akan tertolaknya amalan yang mereka kerjakan. Lihatlah gambaran al-Quran tentang mereka:

Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. (QS.al-Mu’minun 60).
Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah tentang ayat diatas, beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, bersedekah, shalat dan mereka merasa khawatir tidak diterima amalannya”. (HR.Tirmidzi 3175, Ibnu Majah 4198 Ahmad 6/159, Hakim 2/393, dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah 162).
Riwayat-riwayat lain dari generasi salaf yang semisal dengan ini sangat banyak, semua ini menunjukkan keikhlasan dan takutnya mereka kepada Alloh, khawatir kalau-kalau amalan mereka tidak diterima olehNya.
Berangkat dari sinilah penulis memandang perlu untuk menyampaikan masalah sebab-sebab terhapusnya sebuah amalan, karena bagaimanapun juga, ini adalah masalah yang besar, menyangkut kebahagiaan insan di dunia dan akheratnya, apakah amalan yang selama ini kita kerjakan diterima oleh Alloh ataukah malah sebaliknya?, perhatikanlah permisalan al-Qur’an dalam firmanNya yang berbunyi:

Apakah ada salah seorang di antaramu yang ingin mempunyai kebun kurma dan anggur yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dia mempunyai dalam kebun itu segala macam buah-buahan, kemudian datanglah masa tua pada orang itu sedang dia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Maka kebun itu ditiup angin keras yang mengandung api, lalu terbakarlah. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu supaya kamu memikirkannya. (QS.al-Baqarah 266).
Ibnu Abbas berkata, “Alloh membuat permisalan tentang sebuah amalan, Umar bertanya “Amalan apa?” beliau menjawab, “Amalan ketaatan seorang yang kaya, kemudian Alloh mengutus setan kepadanya hingga orang itu berbuat maksiat yang pada akhirnya setan menghanguskan amalannya”. (HR.Bukhari 4538. Lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/280).
Sekarang marilah kita resapi bersama, sebab-sebab apakah yang bisa menghapuskan dan menggugurkan amalan seseorang, resapi, renungi dan jadikanlah sebagai pelajaran.
Sebab-sebab Yang Menghapuskan Amalan
1. Syirik kepada Alloh
Tidak ragu lagi, syirik adalah penyakit akut lagi berbahaya, siap membunuh pelakunya kapan dan dimana saja, tidak ada jalan bagi orang yang berbuat syirik kecuali dengan taubat . Orang yang berbuat syirik amalannya tidak bermanfaat sedikitpun, camkanlah ayat-ayat berikut ini;

Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS.az-Zumar 65)
Alloh berfirman pula:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS.an-Nisa 48).
Ketahuilah wahai saudara seiman, perbuatan syirik tidak akan mendatangkan manfaat sedikitpun kepada pelakunya, ia akan merugi selama-lamanya, amalannya terhapus dan dan tertolak, sia-sia belaka bagaikan debu yang bertebaran.
Alloh berfirman

Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (QS.al-Furqan 23).
Alloh berfirman juga:

Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS.al-An’am 88).
Firman Alloh yang lain:

Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. (QS.al-Israa 19).
Renungilah firmanNya sedang ia adalah mukmin, karena kekafiran dan kesyirikan adalah sebab amalan itu tidak bermanfaat.
A’isyah suatu hari pernah bertanya kepada Rasulullah tentang Abdullah bin Jud’an yang mati dalam keadaan syirik pada masa jahiliyyah, akan tetapi dia orang yang baik, memberi makan, menolong orang yang teraniaya, punya kebaikan yang banyak. Rasulullah menjawab, “Semua amalan itu tidak memberinya manfaat sedikitpun, karena dia tidak pernah mengatakan “Wahai rabbku berilah ampunan atas kesalahan-kesalahanku pada hari kimat kelak”. (HR.Muslim 214).
Maka sudah menjadi kemestian bagi orang yang menghendaki amalannya diterima disisi Alloh untuk mentauhidkanNya, karena tauhid adalah hak Alloh yang paling besar bagi para hambanya.
Lihatlah, perkara syafa’at pada hari kiamat, khusus diberikan kepada orang-orang yang bertauhid bukan kepada orang yang berbuat syirik.
Rasulullah bersabda, Syafaat ini akan diperoleh insya Alloh bagi orang yang mati dari ummatku dalam keadaan tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun. (HR.Bukhari 5829, Muslim 297).
2. Riya
Riya tidak diragukan lagi membatalkan dan menghapus amalan seseorang. Berdasarkan hadits;
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ اْلشِّرْكِ, مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ مَعِيْ فِيْهِ غَيْرِي ْتَرَكْتُهُ وَ شِرْكَهُ.
Alloh berkata: “Aku paling kaya tidak butuh tandingan dan sekutu, barangsiapa beramal menyekutukanku kepada yang lain, maka aku tinggalkan amalannya dan tandingannya”(HR.Muslim 2985).
Penyakit inilah yang paling dikhawatirkan Rasulullah menimpa ummatnya. Beliau bersabda;
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ, قَالُوْا وَماَ اْلشِّرْكُ اْلأَصْغَرُ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan kepada kalian adalah syirik kecil, para shahabat bertanya: Apa yang dimaksud dengan syirik kecil? Rasululloh menjawab: Dia adalah riya”.(HR. Ahmad 5/428, Baihaqi 6831, Baghowi dalam Syarhuss Sunnah 4/201, dishahihkan oleh al-Albani dalam As-Shahihah 951, Shahih Targhib 1/120).
Imam Ibnu Rojab Al-Hanbali t/ berkata: “Ketahuilah bahwasanya amalan yang ditujukan kepada selain Alloh f/ bermacam-macam, adakalanya murni dipenuhi dengan riya, tidaklah yang ia niatkan kecuali mencari perhatian orang demi meraih tujuan-tujuan duniawi, sebagaimana halnya orang-orang munafiq didalam shalat mereka. Alloh f/ berfirman: “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya di hadapan manusia”.(An-Nisa:142). Lanjutnya lagi: “Sesungguhnya ikhlas dalam ibadah sangat mulia, amalan yang dipenuhi dengan riya, tidak diragukan lagi bagi seorang muslim bahwa amalannya sia-sia belaka, tidak bernilai dan pelakunya berhak mendapat murka dan balasan dari Alloh f/ . Adakalanya pula amalan itu ditujukan kepada Alloh f/ akan tetapi terkotori dengan riya, jika terkotori dari asal niatnya maka dalil-dalil yang shohih menunjukkan batalnya amalan tersebut”.(Taisir Aziz Hamid Hal.467).
3. Menerjang keharaman Alloh tatkala sendiri
Betapa seringnya kita merasa aman dari siksa Alloh tatkala sepi menyendiri, seolah-olah tidak ada satupun yang mengetahui perbuatan kita, banyak diantara kita yang berani menerjang keharaman Alloh utamanya saat sepi dan tidak ada yang tahu, padahal Alloh-lah dzat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Orang yang tetap nekat menerjang keharaman Alloh saat sendiri, akan menghapus amalannya, berdasarkan hadits;
َلأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِيْ يَأْتُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ كَأَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيْضًا فَيَجْعَلُهَا اللهُ هَبَاءً مَنْثُوْرًا, فَقَالَ ثَوْبَانُ: صِفْهُمْ لَنَا, جَلِّهِمْ لَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ, أَنْ لاَ نَكُوْنَ مِنْهُمْ وَ نَحْنُ لاَ نَعْلَمُ. فَقَالَ: أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَ مِنْ جِلْدَتِكُمْ وَ يَأْخُذُوْنَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُوْنَ, ولكنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللهِ انْتَهَكُوْهَا.
Rasulullah bersabda, “Sungguh akan datang sekelompok kaum dari ummatku pada hari kiamat dengan membawa kebaikan yang banyak semisal gunung yang amat besar. Alloh menjadikan kebaikan mereka bagaikan debu yang bertebaran. Tsauban bertanya, “Terangkanlah sifat mereka kepada kami wahai Rasulullah, agar kami tidak seperti mereka. Rasulullah menjawab, “Mereka masih saudara kalian, dari jenis kalian, dan mereka mengambil bagian mereka di waktu malam sebagaimana kalian juga, hanya saja mereka apabila menyendiri menerjang keharaman-keharaman Alloh”. (HR.Ibnu Majah 4245, Dishahihkan oleh al-Albani dalam as-Shahihah 505).
4. Menyebut-nyebut amalan shalihnya
Berdasarkan firman Alloh yang berbunyi;

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang seperti itu bagaikan batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS.al-baqarah 264).
Rasulullah bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَيْهِمْ وَ لاَ يُزَكِّيْهِمْ وَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ. فَقَالُوْا: صِفْهُمْ لَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ, فَقَدْ خَابُوْا وَ خَسِرُوْا, فَقَالَ النَّبِيُّ: الْمُسْبِلُ إِزَارَهُ, وَ الْمَنَّانُ بِعَطِيَّتِهِ, وَ الْمُنْفِقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلْفِ الْكَاذِبِ
Ada tiga golongan yang tidak dilihat oleh Alloh pada hari kimat, tidak disucikan dan baginya adzab yang pedih, para shabat bertanya sifatilah mereka kepada kami wahai Rasulullah, alangkah meruginya mereka, Nabi bersabda, “Mereka adalah orang yang menjulurkan pakaiannya, orang yang suka menyebut-nyebut pemberian dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu”. (HR.Muslim 106. Lihat al-Irwaa 900).
5. Mendahului Rasulullah dalam perintahnya
Maksudnya, janganlah seorang muslim mengerjakan amalan yang Rasulullah tidak memerintahkannya, karena hal itu termasuk perbuatan lancang terhadap beliau. Ditambah lagi bahwa syarat diterimanya amalan adalah sesuai petunjuknya, tidak menambahi dan tidak mengurangi. Alloh berfirman;

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS.al-Hujuraat 1).
Rasulullah bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak termasuk urusan kami maka tertolak”.(HR.Muslim 1718).
Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Waspadalah anda dari ditolaknya amalan pada awal kali hanya karena menyelisihinya, engkau akan disiksa dengan berbaliknya hati ketika akan mati. Sebagaimana Alloh berfirman:

Dan (begitu pula) kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat. (QS.al-An’am 110).(Lihat Majalah at-Tauhid Jumadil Ula 1427 H).
6. Bersumpah atas nama Alloh
Renungilah kisah berikut ini,
Rasulullah bersabda, “Dahulu kala ada dua orang dari kalangan Bani Israil yang saling berbeda sifat. Salah satunya orang yang gemar berbuat dosa sedangkan yang satunya lagi rajin ibadah. Yang rajin ibadah selalu mengawasi dan mengingatkan temannya agar menjauhkan dosa, sampai suatu hari ia berkata kepada temannya, berhentilah berbuat dosa! karena saking seringnya diingatkan, temennya yang sering maksiat itu berkata, “Biarkan aku begini, apakah engkau diciptakan hanya untuk mengawasi aku terus?”. Yang rajin ibadah itu akhirnya berang dan berkata, “Demi Alloh, Alloh tidak akan mengampunimu!! atau Demi Alloh, Alloh tidak akan memasukkanmu ke dalam surga!!”. Akhirnya Alloh mencabut arwah keduanya dan dikumpulkan disisiNya. Alloh berkata kepada orang yang rajin ibadah, “Apakah engkau tahu apa yang ada pada diriku, ataukah engkau merasa mampu atas apa yang ada di tanganku?” Alloh berkata kepada yang berbuat dosa, “Masuklah engkau ke dalam surga karena rahmaKu”. Dan berkata kepada yang rajin ibadah “Dan engkau masuklah ke dalam neraka!”.
Abu Hurairah berkata, “Demi dzat yang jiwaku berada ditanganNya, orang ini telah mengucapkan perkataan yang membinasakan dunia dan akheratnya”. (HR.Abu Dawud 4901, Ahmad 2/323. Dishahihkan oleh Ahmad Muhammad Syakir dalam Syarh Musnad 8275. lihat pula al-Misykah 2347).
Imam muslim telah meriwayatkan pula dari Jundub bin Abdillah bahwasanya Rasulullah bersabda,
أَنَّ رُجَلاً قَالَ وَ اللهِ لاَ يَغْفِرُ اللهُ لِفُلاَنٍ, فَقَالَ اللهُ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَتَأَلىَّ عَلَيَّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ وَ أَحْبَطْتُ عَمَلَكَ
Ada orang yang berkata, “Demi Alloh, Alloh tidak akan mengampuni si fulan”, maka Alloh berkata, “Siapa yang bersumpah atas namaku bahwa aku tidak akan mengampuni si fulan padahal aku telah mengampuninya dan membatalkan amalanmu!” (HR.Muslim 2621).
7.Benci terhadap sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah sekalipun dia mengamalkannya
Alloh berfirman:

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Qur’an) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. (QS.Muhammad 9).
Yaitu karena mereka membenci apa yang dibawa oleh Rasulnya berupa al-Qur’an, yang isi kandungannya berupa tauhid dan hari kebangkitan, karena sebab itu Alloh menghapuskan amal-amal kebajikan yang dulu mereka pernah kerjakan. (Fathul Qadir 5/32).
Demikianlah beberapa sebab yang bisa menghapuskan amalan. Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kekuatan oleh Alloh untuk menjauhi sebab-sebab diatas. Kita memohon kepadanya agar amalan yang kita kerjakan dinilai sebagai amalan yang shalih yang diterima disisiNya. Amiin. Allohu A’lam

0 komentar: