Sabtu, 28 November 2009

Manisnya Iman Kepada Taqdir

Al-kisah, suatu saat Abu Mu’awiyah adh-Dharir pernah menceritakan kepada Harun ar-Rasyid sebuah hadits dari Abu Hurairah:
احْتَجَّ آدَمُ وَمُوْسَى
Adam dan Musa pernah berdebat (tentang takdir) .
Tiba-tiba seorang bernama Ali bin Ja’far menggugat: “Bagaimana mungkin ini terjadi padahal jarak antara Adam dan Musa begitu jauh?! Seketika itu Harun ar-Rasyid langsung loncat seraya mengatakan: “Dia menceritakanmu dari Rasul, namun kamu menentangnya dengan “bagaimana”! Harun selalu mengulangi ucapannya sehingga beliau dibuat tenang”.
Imam Abu Utsman ash-Shabuni berkomentar setelah membawakan kisah di atas: “Demikianlah hendaknya bagi seorang untuk mengagungkan hadits-hadits Rasulullah dan menerimanya dengan pasrah sepenuhnya serta mengingkari secara keras terhadap orang yang tidak menempuh jalan yang ditempuh oleh Harun ar-Rasyid bersama orang yang menentang hadits shahih yang dia dengar hanya dengan alasan bagaimana mungkin?!”. (Aqidah Salaf Ashabul Hadits hal. 114-115)
Kisah lain yang lebih memilukan hati, tatkala Amr bin Ubaid mendengar hadits Ibnu Mas’ud tentang takdir : “Seandainya saya mendengar hadits ini dari A’masy maka saya akan mendustakannya, seandainya saya mendengarnya dari Zaid bin Wahb saya tidak mungkin membenarkannya, seandainya saya mendengarnya dari Ibnu Mas’ud saya tidak akan menerimanya, seandainya saya mendengarnya dari Rasulullah maka saya akan menolaknya, dan seandainya saya mendengarnya dari Allah maka saya akan katakan pada-Nya: “Bukan atas hal ini, Engkau mengikat perjanjian dengan kami!”. (Mizanul I’tidal, adz-Dzahabi 3/278). Semoga Allah menjelekkan ucapan ini dan pelontarnya!.
Saudaraku -yang kami cintai karena Allah- itulah sedikit komentar miring orang-orang tersesat dalam menyikapi hadits-hadits seputar takdir yang dilakoni oleh para pemuja akal dari kalangan Jahmiyyah dan Mu’tazilah. “Demikianlah ahli filsafat , mereka senantiasa menolak hadits-hadits yang bertentangan dengan pemahaman mereka yang bathil dan rusak, sebagaimana mereka menolak hadits-hadits tentang melihat Allah di hari kiamat, ketinggian Allah, sifat-sifat Allah, syafa’at, turunnya Allah ke langit dunia… Sejatinya, setiap orang yang membuat kaidah-kaidah baru yang tidak ditandaskan oleh Allah dan rasul-Nya, niscaya dia pasti akan menolak sunnah dan merubahnya dari makna aslinya, berbeda halnya dengan bala tentara Allah dan Rasul-Nya mereka tidak membuat kaidah kecuali yang ditandaskan oleh rasulullah, itulah sumber pijakan mereka”. (Syifa’ul Alil, Ibnu Qayyim 1/82-83)
Mengingat masalah takdir merupakan masalah pokok keimanan dan landasan utama bagi aqidah seorang insan, maka pada kesempatan kali ini penulis memilih tema tentang takdir dan berusaha untuk menyingkap kerancuan pemahaman seputarnya, lebih-lebih pada zaman kita sekarang dimana masalah yang sudah amat jelas ini dikeruhkan oleh sebagian kalangan, sehingga menimbulkan banyaknya pertanyaan, kerancuan, komentar dan menyebarnya kebathilan . Kita berdoa kepada Allah agar menampakkan kepada kita sinar kebenaran. Amiin.

TEKS DAN TAKHRIJ HADITS
Hadits-hadits tentang takdir banyak sekali , namun cukuplah di sini kami ketengahkan satu riwayat saja yang merupakan garis pemisah seputar masalah ini diantara kelompok-kelompok yang menyimpang dalam memahaminya. Berikut hadits yang kami maksud tadi:

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ : كُنَّا فِيْ جَنَازَةٍ فِيْ بَقِيْعِ الْغَرْقَدِ, فَأَتَانَا الرَّسُوْلُ, فَقَعَدَ وَقَعَدْنَا حَوْلَهُ, وَمَعَهُ مِخْصَرَةٌ, فَنَكَّسَ فَجَعَلَ يَنْكُثُ بِمِخْصَرَتِهِ, ثُمَّ قَالَ: مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ, مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوْسَةٍ, إِلاَّ وَقَدْ كَتَبَ اللهُ مَكَانَهَا مِنَ الْجَنَّةِ أَوِ النَّارِ, وَإِلاَّ قَدْ كُتِبَتْ شَقِبَّةً أَوْ سَعِيْدَةً. قَالَ: فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ, أَفَلاَ نَمْكُثُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ, فَقَالَ: مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَيَصِيْرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ, وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَيَصِيْرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ, فقال: اعْمَلُوْا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ, أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيُسَّرُوْنَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ, وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُوْنَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ. ثُمَّ قَرَأَ:

Dari Ali berkata: Suatu saat kami pernah mengantar jenazah di Baqi’ Ghorqod (kuburan di Madinah -pent), lalu Nabi datang kepada kami, beliau kemudian duduk dan kamipun duduk di sekitarnya, beliau membawa tongkat kecil dan menggariskan ke tanah dengan tongkatnya, kemudian bersabda: Tidaklah seorang diantara kalian, tidaklah suatu jiwapun kecuali Allah telah menetapkan tempatnya di surga atau neraka, bahagia atau celaka. Lantas ada seorang lelaki berkata: “Wahai rasulullah, kalau begitu kita pasrah saja kepada catatan (ketentuan) kita dan tidak perlu beramal, kalau memang ditakdirkan bahagia maka akan beramal amalan ahli bahagia dan apabila memang takdirnya sengsara maka akan beramal amalan orang yang sengsara?!” Nabi bersabda: “Beramalah, setiap orang akan dimudahkan, kalau dia termasuk orang yang bahagia maka akan dimudahkan untuk beramal penduduk bahagia dan apabila dia sengsara maka akan dimudahkan untuk beramal amalan penduduk sengsara, kemudian beliau membaca:

(QS. Al-Lail: 5-10)
SHAHIH. Diriwayatkan oleh Bukhari: 1362, 4945, 4946, 4947, 4948, 4949, 6217, 6605, 7552, dan Adabul Mufrad: 903, Muslim: 2647, Abu Dawud: 4692, Tirmidzi: 3344, Ibnu Majah: 78, Nasai dalam Sunan Kubra: 11678, Ahmad 1/82, 129, 132, 140, Abdur Razaq dalam al-Mushannaf 20074, Abu Dawud ath-Thayyalisi dalam Musnadnya: 151, ad-Darimi dalam ar-Radd ala Jahmiyyah: 271, al-Firyabi dalam Kitab al-Qodar: 39-44, al-Ajurri dalam asy-Syari’ah: 327, 328 dan al-Araba’una Haditsan: 7, Ibnu Hibban dalam Shahihnya: 34-35, Abu Ya’la dalam Musnadnya: 375, al-Baihaqi dalam al-I’tiqad: 115, al-Baghawi dalam Syarh Sunnah: 72, Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah: 177, al-Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad: 1063, 1064, 1064, ath-Thobroni dalam Mu’jam ash-Shaghir: 952, Ibnu Jarir ath-Thobari dalam Jami’ul Bayan 30/223, Abdu bin Humaid dalam al-Muntakhab: 84 dari beberapa jalur yang banyak dari Ali bin Abi Thalib .
Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih”.
Al-Baghowi berkata: “Hadits ini telah disepakati keshahihannya”.
Hadits dengan lafadz serupa juga diriwayatkan dari riwayat Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Imron bin Hushain, Suraqah bin Malik, Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Bisyr bin Ka’ab al-Ka’bi, Abu Darda. (lihat as-Sunnah Ibnu Abi Ashim 1/134-142 -tahqiq Basim al-Jawabirah-, Kitab al-Qodar al-Firyabi hal.51-60, Tafsir Qur’an Azhim Ibnu Katsir 8/419-420).
Saudaraku yang dirahmati oleh Allah, sebagaimana anda lihat sendiri hadits di atas adalah berderajat shahih, tiada keraguan di dalamnya, diriwayatkan oleh para ulama ahli hadits dengan tanpa mempermasalahkannya.
Adapun makna hadits ini, kesimpulannya adalah bahwa segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah, namun hal itu bukan berarti kita tidak beramal, bahkan kita tetap diperintahkan untuk beramal dan mencari sebab munuju keridhan Allah.

MEMBEDAH KERANCUAN
Mungkin sebagian kita kaget kalau ternyata hadits yang telah jelas keshahihannya ini masih saja diragukan, bahkan dimentahkan oleh sebagian kalangan yang di hatinya ada penyakit. Mereka beralasan bahwa hadits-hadits seperti ini merupakan kesalahan perawi, bertentangan dengan Al-Qur’an dan mendukung faham Jabariyyah . (lihat As-Sunnah Nabawiyyah hal. 159-160 dan Humum Da’iyah hal. 111-112 oleh Muhammad al-Ghozali)

Jawaban:
Nampak sekali bahwa dua syubhat di atas sangatlah rapuh sekali, sehingga kami tidak tertarik untuk menanggapinya karena sudah sangat jelas keliru sekali dan sudah kita bantah berulang kali. Tinggal sisa syubhat terakhir, yaitu hadits-hadits ini mendukung faham Jabariyyah, maka inilah yang akan kita tanggapi dalam beberap point berikut:

1. Haditsnya Shahih
`Hadits pembahasan derajatnya shahih, tidak ada seorang ahli hadits satupun yang mencacatnya, bahkan yang menganggapnya cacat hanyalah para ahli bid’ah semisal Mu’tazilah dan mereka menuduh Ahli Sunnah dengan Jabariyyah, sebab menurut mereka orang yang menetapkan takdir adalah jabariyyah. Maka pilihlah sendiri jalan mana yang engkau pilih; jalan ahli hadits ataukah ahli filsafat?!!

2. Seperti inikah caranya?!
Kalau memang ada sebagian orang yang salah faham tentang hadits takdir, akankah kita menolak dalil yang shahih hanya karena kesalahfahaman tersebut?!! Dari manakah kaidah semacam ini?! Mengapa kita memukul rata seperti ini?! Demi Allah, kalau saja kita buka pintu ini, dimana kalau setiap kali ada seorang yang salah faham dalam memahami suatu dalil lalu kita tolak dalil tersebut, niscaya entah berapa banyak hadits shahih bahkan ayat al-Qur’an yang akan kita mentahkan, sehingga dengan demikian gugurlah keimanan kita terhadap takdir yang merupakan rukum iman ke-enam ini!!
Sesungguhnya menghadapi kesalafahaman manusia bukanlah dengan cara menolak dalil tetapi dengan meluruskan kesalahfahaman tersebut sebagaimana yang dilakukan Rasulullah dan para ulama salaf. Jadi, ajarkanlah kepada manusia aqidah shahihah menurut Al-Qur’an, Sunnah dan pemahaman salaful ummah. Dengan cara seperti ini, maka manusia akan memahami hadits-hadits tentang takdir dengan pemahaman yang benar, tanpa kebengkokan.

3. Pemahaman Para Salaf
Sesungguhnya para ulama Islam semenjak dulu hingga sekarang senantiasa tetap eksis menjelaskan hadits-hadits tentang takdir dan menyibak segala kerancuan yang melekat di pikiran manusia. Mereka juga membantah secara keras faham Qodariyyah dan Jabariyyah, serta menjelaskan secara gamblang faham Ahli Sunnah wal Jama’ah tentang takdir. Lantas kenapa harus dipermasalahkan lagi?!
Sesungguhnya para sahabat telah memahami hadits-hadits seperti ini dengan pemahaman yang lurus, dimana beriman kepada takdir tidaklah menghalangi amal namun malah menimbulkan semangat dalam beramal. Oleh karena itulah, seorang diantara mereka berkomentar tatkala mendengar hadits-hadits seperti ini: “Saya malah lebih bersemangat sekarang untuk beramal”. Ibnu Qayyim berkata: “Hal ini menunjukkan dalamnya pemahaman para sahabat ketajaman akal mereka serta kebenaran ilmu mereka, karena Nabi memberitakan kepada mereka tentang takdir setiap hamba dengan sebab, dan seorang hamba mendapatkan takdirnya dengan sebab yang dimudahkan baginya”. (Syifa’ul Alil 1/119-120). Jadi kenapa kita tidak menyebarkan pemahaman shahih ini?!!

4. Rusaknya Faham Jabariyyah
Faham Jabariyyah yang mengatakan bahwa manusia itu terpaksa dalam perbuatannya, dia tidak memiliki kehendak karena semuanya telah ditakdirkan sehingga tidak perlu lagi beramal, sungguh ini adalah faham yang rusak dan merusak, karena konsekuensinya adalah menggugurkan syari’at, mereka tinggalkan amal-amal shalih seperti shalat, puasa, doa, amar ma’ruf nahi munkar karena semua itu tidak ada faedahnya, sebab apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, tidak perlu doa dan amal. Bahkan mereka melakukan pelanggaran-pelanggaran syar’I seperti zina, mencuri dan sebagainya karena alasan bahwa semua itu telah ditakdirkan oleh Allah dan mereka hanyalah menjalankannya.
Oleh karena itu, tidaklah berlebihan bila Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa Jabariyyah lebih sesat dari Qodariyyah yang mengingkari takdir, sebab konsekuensi faham Jabariyyah adalah menggugurkan perintah dan larangan, halal dan haram, janji dan ancaman, bahkan beliau menilai bahwa Jabariyyah jauh lebih sesat daripada Yahudi dan Nashara. (Majmu Fatawa 8/288)

FAWAID HADITS
Hadits ini merupakan garis pembeda dalam masalah takdir dan penjelas segala kerumitan seputarnya. Hal ini sangat nampak sekali bagi orang yang memahaminya. Oleh karenanya, Nabi dalam hadits ini menjawab pertanyaan yang sering terlontar di bibir manusia tentang takdir, dan beliau menjelaskan duduk permasalahannya secara gamblang. Selain itu, hadits ini juga mengandung beberapa faedah penting lain, diantaranya:

1. Wajibnya iman terhadap takdir.
Hal ini telah dimaklumi bersama dalam Al-Qur’an, hadits dan kesepakatan para ulama. Barangsiapa yang mengingkarinya maka dia keluar dari rel agama. Bila anda bertanya: Apakah hikmah dan buah kita iman terhadap takdir? Kami jawab: Banyak sekali hikmahnya , diantaranya tawakkal dan yakin hanya bertumpu kepada Allah semata, tidak ujub (bangga diri) tatkala mendapatkan nikmat karena semua itu dari Allah, menggapai ketenangan hati di saat tertimpa musibah, keberanian dalam menghadapi hidup, dan lain sebagainya.

2. Bantahan kepada kelompok Qodariyyah dan Jabriyyah.
Hal itu karena Nabi menetapkan bahwa semua kita telah ditakdirkan tempatnya kelak; di surga atau neraka. Namun dalam waktu yang sama Nabi juga memerintahkan kepada kita untuk beramal dan berusaha karena Allah akan memudahkannya, dan beliau tidak mengatakan bahwa manusia terpaksa dalam perbuatannya sebagaimana sangkaan Jabariyyah.

3. Penetapan tulisan segala takdir di Lauh Mahfuzh.
Hal ini berkonsekwensi bahwa Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya. Dan perlu diketahui bahwa para ulama menyebutkan ada empat tingkatan takdir dalam beriman kepada takdir, yaitu:
a. Ilmu, yakni kita beriman bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi dan akan terjadi, berdasarkan firman-Nya:
(QS. Al-Hajj: 70)

b. Tulisan, yakni kita beriman bahwa Allah telah menulis semua takdir di Lauh Mahfuzh, berdasarkan firman-Nya:
(QS. Al-Hadid: 22)

c. Kehendak, yakni kita beriman bahwa tidak ada sesuatupun yang terjadi kecuali dengan kehendak Allah, berdasarkan firman-Nya:
(QS. At-Takwir: 29)

d. Ciptaan, yakni kita beriman bahwa segala sesuatu di langit dan bumi ini diciptakan oleh Allah, tiada pencipta selain-Nya, berdasarkan firman-Nya:

Dan Dia menciptakan segala sesuatu dengan serapi-rapinya. (QS. Al-Furqon: 2)

4. Para sahabat adalah manusia yang paling mengerti tentang pokok-pokok agama.
Hal itu dikarenakan mereka mempelajarinya langsung dari seorang yang paling mengerti tentang Allah (baca: Nabi Muhammad), sehingga apabila mereka mendapati suatu kerumitan maka mereka segera menanyakannya kepada beliau lalu beliau menjawabnya dengan jawaban yang dapat menghilangkan segala kerancuan. Jadi merekalah orang yang paling mengerti tentang landasan agama, bukan para ahli bid’ah dan pengekor hawa nafsu dari kalangan pengibar bendera filsafat dan sejenisnya.

5. Nabi berdalil dengan al-Qur’an dalam masalah pokok-pokok agama.
Di samping itu, beliau juga menganjurkan kepada para sahabat untuk berdalil dengannya. Hal ini merupakan bantahan kepada sebagian kalangan yang berpemahaman bahwa ucapan Allah dan rasul-Nya tidak menunjukkan yakin dalam masalah aqidah!!

6. Sunnah Nabi itu diambil dan selaras dengan Al-Qur’an.
Perhatikanlah sabda beliau: “Berusahalah, semua orang akan dimudahkan urusannya” bagaimana sangat sesuai dengan firman Allah:

(QS. Al-Lail: 5-7)

7. Diantara manusia ada yang diciptakan untuk mendapatkan kebahagiaan dan ada juga yang diciptakan untuk mendapatkan kesengsaraan.
Hal ini membantah sebagian kalangan yang berpemahaman bahwa semua manusia diciptakan untuk bahagia, hanya saja mereka memilih kesengsaraan padahal sebenarnya mereka tidak diciptakan untuk sengsara!!

8. Penetapan adanya sebab.
Hal ini juga sangat jelas sekali seperti kenyang sebabnya adalah makan, memiliki anak sebabnya adalah pernikahan, pintar sebabnya adalah belajar dan sebagainya. Oleh karena itu, kalau seandainya ada seorang ingin pintar, punya anak, kenyang tetapi tidak mau melakukan sebabnya, niscaya dia akan dianggap “gila”. Jadi mencari sebab tidaklah menafikan takdir sebagaimana juga tidak menafikan tawakkal.

9. Tidak boleh beralasan dengan takdir dalam perbuatan maksiat atau meninggalkan kewajiban .
Hal ini telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin dan semua orang berakal. Kalau saja hal ini diperbolehkan maka semua orang akan membunuh, merampas dan kerusakan-kerusakan lainnya dengan alasan takdir .
Alangkah menariknya kisah seorang pencuri yang akan akan dipotong tanganya pada zaman Umar bin Khathtab, ketika akan dipotong, pencuri itu berkata: “Tunggu sebentar wahai amirul mukminin, sesungguhnya saya mencuri ini dengan takdir Allah”. Maka Umar menjawab: “Kamipun juga akan memotong tanganmu dengan takdir Allah!!!”. (lihat Syarh ath-Thohawiyyah, Ibnu Abil Izzi al-Hanafi 1/135)
Demikianlah pembahasan sederhana ini kami utarakan, apabila ada yang kurang difahami maka ingatlah kata seorang penyair:
إِذَا لَمْ تَسْتَطِعْ شَيْئًا فَدَعْهُ وَجَاوِزْهُ إِلَى مَا تَسْتَطِيْعُ
Bila engkau tidak mampu maka tinggalkan
Dan menujulah kepada apa yang kamu mampu .
Akhirnya, kita berdoa kepada Allah agar menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang dimudahkan dalam menggapai kebahagian di dunia dan akherat. Amiin Ya Mustajiba Saa’ilin.

0 komentar: